Penulis :
Titis Pratiknyo
Analis Politik Lokal dan Demokrasi Masyarakat
Daerah pemilihan Jawa Tengah 4 merupakan salah satu area lokus pertarungan demokrasi dalam memperebutkan posisi sebagai anggota legislatif di tingkat republik Indonesia. Daerah pemilihan ini tergabung dari beberapa Kabupaten/Kota diantara lain adalah Kabupaten Karanganyar, Kabupaten Sragen dan Kabupaten Wonogiri yang dimana ketiga daerah ini masuk ke dalam wilayah administrasi provinsi jawa tengah. Berdasarkan data dari Komisi Pemilihan Umum setiap Kabupaten ini secara agregat memiliki data pemilih tetap sebesar 2.324.513 dengan rincian dimana Kabupaten Karanganyar memiliki DPT jumlah 711.840, Kabupaten Sragn (762.310) dan Wonogiri (850.363).
Kontestasi politik di daerah pemilihan jawa tengah 4 dalam ruang lingkup anggota legislatif DPR RI memiliki kuota sebanyak 7 kursi untuk duduk di kursi senayan DPR RI. Kita ketahui pada periode 2019 – 2024 di DAPIL Jawa Tengah IV memiliki anggota legislative DPR RI Petahana yang didominasi dari fraksi PDIP (Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan sebanyak 4 kursi, kemudian disusul oleh masing masing kompetitornya mendapatkan satu kursi yaitu Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Golongan Karya (GOLKAR) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Perolehan pada pemilihan umum 2019 dimana setiap partai yang saat ini memiliki perolehan suara gabungan antara partai dan calon anggota legislatif cukup didominasi oleh satu partai dengan perolehan suara diantara lain PDIP (698.416), GOLKAR (258.694), PKS (144.568) dan PKB (113.689).
Melihat dominasi tersebut kita akan melakukan penelitian terhadap kondisi eksisting pada periode tertentu di tahun 2024 pada tanggal 29 Januari – 5 Februari 2024 dengan metode multistage random sampling yang digunakan sebanyak 600 responden. Hal ini dilakukan untuk melakukan proyeksi serta menangkap fenomena yang ada di daerah pemilihan jawa tengah IV dalam menyambut pesta demokrasi tahun 2024 di pemilu legislatif DPR RI.
Popularitas dan Elektabilitas merupakan dua hal yang berbeda, namun menjadi tolak ukur dalam meraih kesuksesan dalam pemenangan elektoral seorang kandidat. Popularitas menjadi tolak ukur dimana seorang figure publik akan sejauh mana dikenal oleh para konstituen maupun audiens. Sedangkan likeabilitas merupakan tingkat lanjutan dari tingkat pengenalan seorang publik figur dengan mengukur seberapa besar tingkat kesukaan/kedisukaan terhadap suatu objek yang diukur. Audiens maupun konstituen yang memiliki tingkat pengenalan serta kesukaan terhadap sebuah figur yang ada akan mampu mudah mengukur terkait kemantapan serta elektoral yang akan terjadi pada seorang publik figur yang sedang melakukan kontestasi demokrasi.
Kami mencoba menangkap fenomena popularitas dan likeabilitas dari beberapa calon anggota legislatif yang sebelumnya kami lakukan proses kajian internal terlebih dahulu terkait potensial figur yang ada. Jika melihat peta elektoral pada kondisi eksisting yang ada pada 7 kursi anggota legislatif petahana DPR RI periode 2019 – 2024 meliputi Bambang Wuryanto-PDIP mendapatkan perolehan 188.619 suara, Agustina Wilujeng Pramestuti – PDIP (115.697), Paryono – PDIP (109.340), Endang Maria Astuti – GOLKAR (76.723), Dolfie O.F.P – PDIP (63.441), Hamid Noor Yasin – PKS (55.704) dan Luluk Nur Hamidah – PKB (42.303).
Popularitas dan likeabilitas yang telah kami lakukan dalam penelitian ini memunculkan beberapa fenomena menarik yang terjadi. Bermula dari beberapa petahana anggota legislative DPR RI muncul ke dalam hasil tangkapan di lapangan sejauh mana hasil popularitas dan likeabilitas dimata responden. Jika kita melihat 5 besar yang sudah diurutkan dari hasil infografis diatas, perolehan tertinggi didapatkan oleh Diah Pikatan O. Putri Haprani memiliki Popularitas sebesar 43,5% dan Likeabilitas sebesar 30,3%. Setelah itu disusul Bambang Wuryanto (Pop : 37,2% / Like: 25,5%), Paryono (Pop : 32,7% / Like : 26,3%), Rinto Subekti (Pop : 29,2% / Like : 20,8%) dan Agustina Wilujeng Pramestuti (Pop : 27,2% / Like 21,7%). Berdasarkan urutan lima besar ini terdapat 2 orang yang bukan petahana anggota DPR RI memiliki modal yang cukup besar. Kalau kita meilihat di urutan pertama terdapat Diah Pikatan yang merupakan anak dari Puan Maharani sekaligus cucu dari Megawati Soekarnoputri menjadi hal yang jelas membuktikan bahwa proses transfer elektoral terhadap kader yang berkelanjutan dari PDIP cukup efektif.
Selanjutnya terdapat Rinto Subekti yang muncul di urutan lima besar dari partai Demokrat yang berniat untuk kembali mendapatkan kursinya yang hilang di periode 2019 – 2024 menjadi modal yang cukup baik untuk kontestasi di pemilu legislatif 2024. Sebaliknya ada 2 orang anggota legislatif DPR RI petahana yang menempati urutan keenam hingga kedelapan adalah Hamid Noor Yasin (PKS), Dolfie (PDIP) dan Luluk Nur Hamidah (PKB). Meskipun sebagai petahana anggota DPR RI dari ketiga petahan tersebut memiliki tingkat keterkenalan dan kesukaan masih diatas rata-rata yaitu 15%. Namun hal ini tetap harus diwaspadai yang dimana seharusnya petahan mampu mencapai rata-rata tingkat popularitas dan likeabilitas diatas 20% selama periode 5 tahun merawat konstituen dengan baik sebagai upaya mempertahankan kursi di DAPIL Jawa Tengah 4.
Personal publik figur bukan hanya yang menentukan sebuah kemenangan kontestasi demokrasi pemilu legislatif, namun elektoral secara partai itu sendiri juga diperlukan pengukuran lebih lanjut. Hal ini dapat dilihat dari variabel yang diuji dalam instrumen ini melalui pertanyaan elektabilitas partai secara terbuka. Elektabilitas partai secara terbuka dilakukan tanpa menggunakan alat bantu apapun sehingga secara alam bawah sadar responden mengatakan preferensi pilihan secara spontan. Berdasarkan hasil yang didapatkan dari penelitian ini elektoral tertinggi diperoleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) sebesar 45,5%. Kemudian disusul partai GOLKAR (14%), GERINDRA (9,5%), PKS (8%) dan yang belum menentukan pilihan sebesar 11,5%. Pada periode penelitian ini sebenarnya sudah cukup terlihat kristalisasi sebaran suara terhadap beberapa partai akan mempengaruhi elektoral secara langsung pada saat proses pencoblosan jika tidak ada agenda politik lain yang mempengaruhi secara hebat.
Perolehan 45,5% yang didapatkan oleh PDIP pada tahapan pertanyaan elektabilitas secara terbuka membuat pukulan telak terhadap partai lainnya yang membuat daerah pemilihan jawa tengah 4 benar benar terkuasai oleh PDIP. Hal ini menjadikan area ini merupakan tantangan yang cukup berat bagi partai lainnya dalam proses menggerus suara petahana yang selalu dirawat secara simultan setiap tahunnya hingga mendapatkan predikat kendang banteng di wilayah ini. Untuk lebih lanjut sejauh mana kita lihat sebaran elektoral ini kita harus melihat variabel lainnya khususnya dalam proses pertanyaan tertutup untuk melihat pergeseran pemilih yang belum menentukan pilihannya atau bahkan ada yang bergeser ke partai lainnya.
Elektoral secara terbuka sudah kita lihat secara spesifik tersebar di beberapa partai politik, namun secara tertutup juga harus dilakukan observasi untuk melihat adanya pergeseran suara terhadap pemilih yang belum menentukan pilihan bahkan dari partai lainnya. Elektabilitas secara tertutup dilakukan dengan cara memberikan simulasi surat suara kepada responden, kemudian responden seperti melakukan simulasi pencoblosan melalui surat suara yang diberikan sebagai spesimen pemilu legislatif tahun 2024. Berdasarkan hasil pada variabel elektabilitas secara terteutup dari simulasi surat suara ini diperoleh hasil tertinggi ada pada Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan sebesar 47,5%. PDIP semula di elektabilitas secara terbuka mendapatkan elektabilitas sebesar 45,5%, sedangkan secara tertutup mengalami kenaikan 2,5%. Kenaikan ini dialami juga oleh partai lainnya seperti GOLKAR mengalami kenaikan 1,5% menjadi 15,5%, dan PKB mengalami kenaikan 1%. Kenaikan juga dialami oleh PKS, PAN, PSI, NASDEM dan DEMOKRAT tetapi tidak sampai 0,5% yang dialami oleh beberapa partai ini. Meskipun adanya kenaikan yang terjadi dari masing-masing partai, kita melihat bahwa gap yang ada dari partai perolehan tertinggi hingga urutan kedua dan urutan seterusnya sangat jauh dalam rentang Margin of Error pada penelitian kali ini dimana sebesar 4%. Bagi partai urutan lainnya yang memang mendapatkan selisih dalam rentang Margin of Error ini memiliki kesempatan untuk persaingan yang cukup ketat secara realita pemilihan politik yang diperkuat secara elektoral yang ada di dalam bilik suara. Pergeseran suara pada simulasi surat suara ini cukup signifikan dimana semula secara terbuka responden yang belum nenetukan pilihan sebesar 11,5%, pada simulasi surat suara mengalami penurunan menjadi 5% dimana responden mulai bergeser memilih partai pilihannya jika diberikan simulasi surat suara.
Pemilu legislatif tentu memiliki dua hal dalam perolehan suara yaitu suara partai yang dimana pemilih memilih logo partainya saja dalam surat suara maupun suara caleg dari partai tersebut dimana pemilih akan mencoblos nama caleg yang dipilih dalam surat suara. Kita akan melihat hasil dari penelitian ini elektabilitas gabungan dari partai dan caleg serta elektabilitas yang sudah terpisah antara elektoral partai beserta kandidat caleg DPR RI. Sebelumnya kita sudah melihat perolehan tertinggi ada di PDIP sebesar 47,5% dari responden yang memilih lewat simulasi surat suara, dimana agregat elektoral ini terbagi dengan proporsi 17% responden hanya memilih partai dan 30,5% responden memilih kandidat caleg DPR RI. Lebih jelasnya dari 30,5% elektoral caleg PDIP hasil penelitian ini tersebar dari 5 nama yang cukup bersaing ketat yaitu Bambang Wuryanto (7,7%), Diah Pikatan (7,3%), Agustina Wilujeng P (6,5%), Paryono (5%), Dolfie (3,8%) dan masuk kategori lainnya. Dari beberapa nama ini kita melihat persaingan elektoral yang cukup kuat antara Bambang Wuryanto dengan Diah Pikatan memiliki gap yang cukup dekat hanya berbeda 0,4% saja. Dari kedua nama ini yang cukup popular sehingga mampu menarik secara deras elektoral dari para responden yang memilih pada penelitian ini karena memiliki patron ketokohan yang sangat menarik. Selain itu juga Agustina Wilujeng mengikuti di posisi ketiga yang membuatnya sukses sebagai petahana yang mempertahankan patron ketokohan diantara mahkota lainnya yang ada di posisi pertama dan kedua. Hal ini yang membuat perolehan PDIP cukup signifikan ditambah petarung lainnya yang menyebar seperti Dolfie dan Paryono menambah pundi elektoral PDIP secara agregat mampu meraih puncak tertinggi diantara partai lainnya.
Fenomena partai lainnya yaitu GOLKAR, GERINDRA dan PKS juga sama seperti PDIP dimana dominasi elektoral partai tidak sebesar dominasi elektoral caleg DPR RI yang ada di partai tersebut. Dimulai dari GOLKAR secara agregat mendapatkan elektoral 15,5% dari hasil penelitian ini dimana 5% merupakan elektoral secara partai saja sedangkan selebihnya 10% didapatkan dari Caleg DPR RI GOLKAR Juliyatmono (6,3%), Endang Maria Astuti (4,3%) sedangkan sisanya dari caleg lainnya di GOLKAR. Kemudian GERINDRA secara agregat mendapatkan elektoral sebesar 9,5% yang dimana elektoral secara partai hanya sebesar 4,5% diperkuat elektoral caleg DPR RI Sriyanto Saputro (4,3%) dan tersebar ke caleg GERINDRA lainnya. Namun ada hal yang menarik dari PKS dimana secara agregat mendapatkan 8,7% dimana elektoral partai hanya 2,2% sedangkan sisanya tersebar hampir merata pada 3 caleg DPR RI termasuk petahana yang muncul yaitu Hadi Santoso sebesar 3,8%. Kalau dilihat lebih jelas dari segi elektoral suara partai saja pada PKB dan PKS terdapat persaingan yang cukup ketat, namun pada saat kita bandingkan di pertarungan suara Caleg DPR RI pertarungan PKB dengan PKS dari hasil penelitian ini cukup berbeda. PKS lebih mampu bertarung dengan cakap melalui beberapa petarung yang muncul dibandingkan petaruh caleg DPR RI PKB yang hanya satu orang saja yang muncul dalam radar elektoral individi caleg ini yaitu Luluk Nur Hamidah. Hal ini menjelaskan fenomena yang ada memperkuat bahwa setiap partai akan menjadi kuat secara elektoral gabungan, pasti dapat diperkuat dari banyaknya jumlah petarung di dalam area pemilihan itu. Hal ini disebabkan karena adanya titik jenuh elektoral yang mampu diserap oleh masing-masing caleg DPR RI sesuai dari pengalaman serta cara merawat konstituen yang ada. Meskipun dalam hal ini penelitian kami belum mampu menjelaskan seberapa besar batasan titik jenuh yang mampu didapatkan dari suara partai ataupun suara caleg sehingga menghasilkan suara gabungan partai yang menjadikan elektoral yang kuat di daerah tersebut.
Elektabilitas secara actual melalui hasil penelitian yang dilakukan tentu dalam melakukan kurasi maupun melihat pergeseran suara diperlukan pembanding. Oleh karena itu hasil pemilu legislatif DPR RI tahun 2019 secara sah menggunakan data KPU RI dibandingkan dengan hasil elektoral hasil penelitian yang sudah dilakukan. Kalau kita melihat dari hasil yang ada dari Sebagian besar elektabilitas dari setiap partai memiliki selisih elektoral yang masih dalam rentang margin of error penelitian ini sebesar 4,1%. Hal ini secara umum menggambarkan tingkat akurasi serta gap kekurangan maupun kelebihan dari selisih suara tidak jauh berbeda dengan hasil penelitian yang ada. Kalau kita lihat di tahun 2019 yang dimenangkan oleh PDIP di daerah pemilihan jawa tengah 4 DPR RI ini mendapatkan persentase suara sah sebesar 42,2% diperkuat hasil penelitian kali ini mendapatkan 47,5%. PDIP dari tahun 2019 hingga hasil penelitian di periode ini masih memimpin dengan angka yang fantastis meskipun dari hasil penelitian ini terdapat kenaikan sebesar 5,3%, sebenarnya PDIP dapat disimpulkan elektoralnya sudah stagnan ataupun sudah berada di titik tertinggi. Pergeseran suara ini didapatkan dari elektoral partai Nasdem, PAN dan Demokrat yang berpindah ke PDIP berdasarkan fenomena hasil penelitian di periode survei ini.
Pergeseran suara elektoral partai memang menarik dilihat bagaimana pengaruh dari kondisi aktual yang ada. Baik dari kondisi mesin partai, performa caleg maupun kontribusi entitas politik selama ini dalam proses merawat konstituen akan berpengaruh besar terhadap elektoral sebuah partai. Daerah pemilihan Jawa Tengah 4 DPR RI ini merupakan salah satu wilayah yang cukup menantang bagi partai lainnya bahkan untuk membuat perolehan kursi tetap konsisten tidak mengalami penurunan drastis sudah cukup memilih prestasi yang bagus. Hal ini dialami oleh partai GOLKAR dan PKS yang mengalami stagnansi elektoral yang berpotensi tetap mampu mempertahankan kursinya di daerah pemilihan ini, namun jika melihat PKB yang mengalami sedikit penurunan secara elektoral perolehan tahun 2019 dengan hasil survei di periode survei 2024 mengalami penurunan yang berpotensi kehilangan kursinya.
Elektabilitas suara partai secara gabungan diperoleh dari responden yang memilih baik secara partai maupun calon anggota legislatif yang sedang bertarung di suatu daerah pemilihan. Hasil penelitian ini memberikan jawaban atas setiap responden yang memilih pilihan partai memiliki alasan yang cukup beragam. Sebelum itu kita harus memahami bahwa ada beberapa kategori alasan memilih dari seorang pemilih yang biasanya kami kategorikan ke dalam 3 kategori yaitu secara psikologis, sosiologis dan rasional. Kalau kita melihat dari hasil elektoral yang ada dengan alasan memilih partai yang sudah dipilih oleh maisng-masing responden tergambar 3 peringkat teratas didominasi alasan secara psikologis dan sosiologis. Alasan secara psikologis ini memiliki gambaran alasan yang diutarakan dengan variabel utama terkait meliputi emosi, kebutuhan mental, trauma masa lalu, atau kognisi—yang mendasari perilaku, keputusan, atau respons seseorang, sering kali di luar kesadaran logis sehingga hasil yang didapatkan yaitu dikarenakan pilihan sedari dulu (17,8%) dan karena hati Nurani (14,2%).
Selain itu alasan secara sosiologis pertimbangan yang didasarkan pada fakta empiris, nilai-nilai, norma, dan kebutuhan riil yang berkembang dalam masyarakat dengan hasil yang bisa kita lihat terdapat diurutan ketiga yaitu karena ikut arahan orang lain atau masyarakat setempat (12,6%). Kalau kita ingin lebih melihat varian alasan lainnya yaitu alasan rasional yang menitikberatkan dasar pemikiran, keputusan, atau tindakan yang logis, masuk akal, dan berdasarkan fakta atau data objektif dari hasil penelitian khususnya terdapat salah satu alasan dari beberapa alasan yaitu karena bantuan yang diberikan partai/tokoh tersebut (8,2%). Kesimpulan secara agregat yang bisa diamati dari hasil penelitian pada variabel alasan memilih partai ini Sebagian besar memiliki kategori dengan hasil alasan secara psikologis (49,9%) mendominasi, alasan rasional (20,1%), alasan sosiologis (8,7%), alasan lainnya (4,6%) dan yang belum menjawab ataupun tidak tahu (4,6%).
Fenomena alasan memilih partai sudah kita analisa lebih lanjut dibagian sebelum ini dan pada selanjutnya akan menganalisis alasan memilih calon anggota legislatif. Secara dugaan indikasi antara alasan memilih partai dengan memilih calon anggota legislatif ada potensi menarik yang berbeda, dikarenakan objek yang dipilih memiliki perbedaan yang signifikan antara partai dengan calon anggota legislatif yang tersebar untuk memperebutkan elektoral di daerah pemilihan terkait. Kalau melihat dari hasil penelitian periode ini alasan memilih caleg terdapat 3 hasil teratas yaitu karena bantuan yang diberikan caleg tersebut (15,5), karena menyukai caleg partai tersebut (10,3%) dan karena merakyat/memperjuangkan aspirasi rakyat (10,3%). Hasil 3 teratas memiliki fenomena hasil yang berbeda jika dibandingkan alasan memilih partai, dimana alasan calon anggota legislatif ini didominasi urutan 3 teratas dengan alasan rasional dan alasan psikologis. Jika melihat secara agregasi alasan memilih calon anggota legislatif memperlihatkan bawah fenomena menarik di sesi alasan memilih caleg ini didominasi alasan rasional (44,5%) dibandingkan dengan alasan psikologis (32,2%) dan sosiologis (15,5%) selain itu responden masih ada yang menyebutkan TT/TJ (6%) serta lainnya (1,6%). Berdasarkan hasil penelitian ini membuktikan bahwa responden yang memilih calon anggota legislatif secara langsung akan lebih mempertimbangkan alasan rasional, sedangkan pada saat alasan memilih partai saja untuk responden paling didominasi mempertimbangkan dengan alasa secara psikologis.
Politik yang terjadi di dalam kontestasi pemilihan legislatif ataupun kepala daerah bahkan presiden/wakil presiden pun memiliki faktor tokoh berpengaruh yang saat ini kita tangkap fenomena tersebut di survei ini. Hasil survei memberikan gambaran bahwa pihak yang dimintai pendapatnya atau ikuti anjurannya dalam hal terkait politik paling besar dari teman/kerabat dengan hasil sebesar 39,8%.
Hal ini membuktikan bahwa tokoh yang mampu mempengaruhi pilihan politik yang cukup efektif adalah teman/kerabat sekitar responden dalam penelitian ini. Kemudian ada di urutan lainnya yang dimintai pendapatnya atau diikuti anjurannya terkait politik adalah orang tua (8,5%), tokoh agama (7%), diri sendiri (6,8%) dan seterusnya.
Demokrasi di Indonesia yang biasanya disebut pesta rakyat yang diadakan mulai setiap 5 tahun sekali ini cukup banyak isu terkait politik uang yang beredar khususnya pada hari pemilihan. Kami berupaya menangkap fenomena ini untuk lebih jauh mendalami bagaimana persepsi responden yang diberikan pertanyaan politik uang dalam penelitian ini. Permulaan kami menanyakan kepada responden terkait pemberian sejumlah uang atau barang kepada masyarakat agar memilih calon tertentu apakah bisa dibenarkan atau tidak. Jika dilihat hasilnya responden menjawab 68,5% dengan jawaban tidak bisa dibenarkan. Hal ini memberikan kesimpulan bahwa Sebagian besar responden menganggap pemberian sejumlah uang atau barang untuk memilih calon tertentu tidak baik. Sedangkan responden lainnya yang menjawab bisa dibenarkan masih ada sebesar 29,8% dan tidak menjawab sebesar 1,7%.
Persepsi dibenarkan atau tidaknya pemberian sejumlah uang atau barang pun kami melakukan pendalaman dengan pertanyaan selanjutnya jika pemberian sejumlah uang atau barang dilakukan oleh tim sukses dari calon yang mengarahkan agar memilih calon tersebut kepada responden. Hal ini memberikan jawaban dimana 45,8% responden menjawab menerima uangnya dan memilih calon yang memberi uang paling banyak menjadi urutan teratas, sedangkan diurutan kedua terdapat 39% responden memilih untuk menolak pemberian uang dari calon. Kalau kita lihat fenomena ini cukup menarik dimana cukup banyak diawal responden mengatakan tidak bisa dibenarkan terkait pemberian sejumlah uang atau barang, pada pertanyaan selanjutnya jika tim sukses memberikan sejumlah uang atau barang paling tertinggi responden menjawab menerima uangnya dan memilih calon memberi uang paling banyak. Hal ini memberikan kesimpulan dimana posisi tim sukses seirngkali merupakan orang terdekat ataupun personal yang ada di lingkungan sekitar sehingga meningkatkan rasa sungkan ataupun rasa ketidakinginan menerima sejumlah uang atau barang. Sehingga responden yang mengatakan menerima uangnya dan memilih calon yang memberikan uang paling banyak menjadi potret kompetisi politik uang yang cukup besar di lingkungan masyarakat. Selain itu terdapat responden yang menjawab menerima uangnya namun memilih calon yang memberikannya sebesar 10%, menerima uang namun memilih calon sesuai keinginan sendiri (2,8%) dan tidak tahu/tidak jawab (2,3%). Hal ini menggambarkan bahwa kondisi hasil penelitian dari responden yang sudah menjawab memberikan kondisi terkait penerimaan sejumlah uang atau barang sebagian besar responden menerima nya.
Karakter politik uang akan dirasakan dari bagaimana responden memberikan persepsi dalam hal diberikan sejumlah atau barang untuk diarahkan dalam memilih entitas calon politik. Kalau sebelumnya kita sudah mampu melihat gambaran persepsi itu dari responden dalam gambaran awal politik uang, selanjutnya kami akan memperdalam dari segi nominal jumlah uang yang sesuai diberikan untuk praktik politik uang maupun barang yang disukai oleh responden jika dihadapkan dengan pemberian barang dari tim sukses calon yang ada. Kami melakukan analisis kembali dengan memberikan pertanyaan seandainya ada calon atau tim sukses yang ingin memberi uang agar memilih calon tersebut, berapa jumlah uang yang sesuai agar memilih calon tersebut? Hasil jawaban dari responden cukup beragam dimana masih banyak tidak tahu atau tidak menjawab sebesar 51,2%. Sedangkan jawaban lainnya jika diurutkan terdapat jawaban dengan nominal 100.000 – 199.000 (15,7%), diatas 400.000 (11,5%), 50.000 – 99.000 (11,3%), 200.000 – 399.000 (9,5%) dan dibawah 50.000 (0,8%). Jika kita melihat pola jawaban yang diberikan oleh responden mampu dilihat bahwa responden masih banyak yang bingung dalam menentukan nominal yang sesuai jika diberikan sejumlah uang. Meskipun kembali lagi di variabel sebelumnya bahwa terbanyak mengambil uang dari calon yang paling banyak memberikan uang, hal ini bisa analisa pemberian uang yang bukan hanya sekali namun dengan nominal yang beragam menimbulkan potensi ketidaktahuan ataupun tidak menjawab dari responden yang saat ini lebih memahami kondisi teritorial yang ada di dapil tersebut.
Selain kita mendalami dalam hal nominal besaran uang yang sesuai dalam hal praktik politik uang, kami mencoba untuk memberikan pertanyaan terkait kategori barang yang lebih disukai jika ada tim sukses calon tertentu ingin memberikan ke responden. Hasil yang didapatkan dari pertanyaan ini yaitu responden menjawab lebih menyukai beras/sembako (50,9%), alat ibadah (14,4%), baju/kaos (13,2%), minyak goreng (5,5%), uang tunai (4,5%), barang lainnya (4,3%) dan tidak tahu/tidak menjawab (7,2%). Hasil jawaban yang diberikan oleh responden memberikan fenomena bahwa kebutuhan akan barang yang bersifat kebutuhan harian ataupun kebutuhan rumah tangga menjadi pilihan utama jika ada barang yang akan diberikan oleh salah satu tim sukses calon tertentu. Beras/sembako yang dipilih sebanyak 50,9% responden dalam penelitian ini beranggapan bahwa ini menjadi daya tarik terbesar karena menyangkut urusan konsumsi sehari-hari dalam rumah tangga responden. Hal ini menjadi peluang besar para calon publik figus khususnya yang akan ber kompetisi dalam pemilihan legislatif akan lebih kuat memilih beras/sembako sebagai alat tukar transaksional kepada calon pemilih dalam proses mengumpulkan elektoral pribadi.


