Studi Kasus di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur

Aldhi Bakti Prabowo – Peneliti Indekstat Indonesia

Generasi Milenial[1] dianggap sebagai generasi yang melek informasi. Banyaknya arus informasi yang mereka konsumsi, membuat generasi ini dikenal kritis namun tidak sedikit juga yang bersikap apatis terhadap isu politik. Penelitian yang dilakukan oleh CSIS menyebutkan bahwa kaum milenial ini masuk kedalam kategori lemah (tidak begitu minat dalam membahas politik)[2]. Sedangkan menurut penelitii LIPI, Siti Zuhro, generasi milenial dianggap sebagai generasi yang rasional, kritis, cerdas dan tidak mampu terendus isu SARA[3]. Potret tersebut menggambarkan bahwa segmentasi market politik ini sangatlah unik, sehingga membutuhkan metode tersendiri dalam mendulang simpati dan dukungan mereka.

Dalam kontestasi politik semenjak Pemilu Tahun 2014 dan 2019, segmen milenial menjadi incaran para pemburu suara. Karena keterbukaan informasi dan era digital, ceruk pasar milenial tidak hanya identik dengan kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, ataupun Yogyakarta, melainkan telah menembus batasan-batasan geografis dan sosial budaya. Jika melihat pada beberapa penyelenggaraan pemilihan umum sebelumnya, di kota-kota besar seperti DKI Jakarta pada tahun 2017 lalu, kita tentu sudah melihat bahwa di setiap kubu baik Anies Baswedan – Sandiaga Uno, Basuki Tjahaja Purnama – Djarot Syaiful H, maupun AHY – Sylfiana Murni, sudah mulai menjalankan strategi komunikasi politik melalui cara yang unik seperti membuat video di youtube yang bersifat soft campaign atau seperti membuat flash mob di bundaran HI dengan lagu-lagu parodi yang lucu. Hal ini dilakukan demi mendulang dukungan dari ceruk pemilih milenial.

Anomali Politik

Sebagai contoh pada Pemilu Gubernur Jawa Timur tahun 2018 lalu. Khofifah yang tidak diunggulkan saat itu, bisa memenangkan kontestasi pilgub tersebut. Jawa Timur yang identik dengan nilai-nilai tradisionalnya, seperti patron pada tokoh-tokoh agama maupun masyarakat, membuat khalayak mengunggulkan Gus Ipul karena yang notabene lebih dekat dengan Kyai dan Pesantren sebagai lumbung suara potensial di Jawa Timur . Ada satu hal menarik yang dilakukan oleh Khofifah, yaitu memilih Wakil dari kalangan muda yaitu Emil Dardak dengan target ceruk pasar milenial di Jawa Timur.

Jumlah DPT di Provinsi Jawa Timur sekitar 30 juta pemilih, dengan pemilih milenial mencapai 30% atau sekitar 10 juta pemilih[4]. Emil Dardak saat itu dianggap sebagai simbol muda dan pembaharu bagi kelompok-kelompok milenial di Jawa Timur. Dengan berbagai bentuk kampanye gagasan inovatif dan kreatif dari pasangan Khofifah dan Emil Dardak, berhasil mematahkan prediksi banyak pihak. Hasil pilgub di Jawa Timur menyisakan dua pertanyaan besar : Apakah karakter pemilih di Jawa Timur sudah bergerak kearah yang lebih modern? dan juga Apakah segmen milenial telah mampu menjadi motor perubahan bagi kalangan non milenial di Jawa Timur ?

Kabupaten Sidoarjo adalah salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Timur yang memiliki fenomena serupa. Penelitian Indekstat tahun 2019[5] menunjukkan bahwa corak masyarakat yang kental dengan nilai-nilai tradisionalnya, kini sudah mulai bergeser menjadi lebih modern, dimana mereka tidak lagi hanya memandang faktor- faktor sosiologis seperti agama dan keturunan dalam menetukan pilihan politik. Masyarakat di Sidoarjo sudah mulai melihat beberapa faktor lain seperti kompetensi tokoh hingga paras kandidat yang bertarung. Pergeseran karakter pemilih banyak sedikitnya mulai dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti arus urbanisasi, keterbukaan informasi dan berbagai keinginan untuk mulai melakukan perubahan kepemimpinan yang lebih baik. Selain itu, tidak sedikit pula yang beranggapan bahwa pergeseran perilaku pemilih ini juga dipengaruhi oleh kaum milenial. Pada era globalisasi ini, keterbukaan informasi sudah mampu menembus batas-batas komunikasi yang selama ini tidak mampu dilakukan.

Read More Full Article

Download Here