Pilkada Kuningan 2018 : “Petahana Berpeluang Dikalahkan Penantang”

by | Aug 29, 2017 | News | 0 comments

Kuningan, Jawa Barat – Suasana politik di Kabupaten Kuningan mulai memanas setahun menjelang Pemilukada Seretak 2018. Para kandidat bakal calon bupati mulai melakukan sosialisasi ke masyarakat. Media sosialisasi pun sudah mulai ramai dengan berbagai kreatifitas.

 

INDEKSTAT INDONESIA – Political Research Center sebagai lembaga konsultan riset sosial politik independen telah melakukan riset Survei tentang Pandangan dan Harapan Masyarakat Terhadap Situasi Pilkada di Kabupaten Kuningan 2017. Survei dilakukan pada tanggal 5-7 Agustus 2017. Tujuan survey ini dilakukan untuk mengetahui pandangan masyarakat terhadap kandidat bakal calon bupati dan harapan terhadap pelaksanaan pilkada 2018.

 

CEO Indekstat Indonesia, Ary Santoso mejelaskan bahwa “Indekstat melakukan riset dengan menggunakan metodologi multistage random sampling dengan total responden 400 orang dengan  margin of error ± 4,9%. Populasi pada survei ini adalah Warga Negara Indonesia Kab. Kuningan yang berusia minimal 17 Tahun atau sudah memiliki KTP atau yang memiliki hak pilih dan bukan anggota TNI & Polri. Kemudian, riset ini dilakukan dengan metode wawancara face to face antara responden terpilih dengan surveyor terlatih.”

 

“Yang menarik dan membedakan survey kami dengan lembaga riset lain adalah penggunaan aplikasi berbasis smartphone android. Kami menamakan teknologi kami dengan nama WeSurvey. Semua surveyor dibekali perangkat smartphone android dan dilatih secara intensif penggunaan aplikasi tersebut. Pendekatan teknologi aplikasi ini memiliki kelebihan dibandingkan survey manual dengan paper. Kelebihan survey Indekstat menggunakan WeSurvey adalah proses survey mampu termonitor secara real-time oleh supervisor guna menangkap kejanggalan yang terjadi selama proses survey. Kemudian, data yang diperoleh lengkap (tidak ada missing value), proses validasi data dilakukan pada saat proses pelaksanaan survei sehingga data final yang dihasilkan sudah “clean” dan valid. Selain itu, hal yang dinanti dengan menggunakan WeSurvey ini adalah proses survei yang dapat dilakukan secara cepat dan hasil survey yang dapat dilihat secara langsung selama proses survei berjalan hingga selesai. Secara sederhana, hasil survei Indekstat menggunakan teknologi WeSurvey mampu menghasilkan data yang lebih baik karena menekan terjadinya beberapa bentuk kesalahan teknis dan nonteknis diluar metode sampling (non sampling error).” Lanjut Ary

 

Dalam riset kali ini, ada beberapa temuan yang didapat oleh kami, sambung Ary. “kami mendapati hanya 59% masyarakat yang mengetahui akan adanya Pemilihan Kepala Daerah 2018. Hal ini tentu menjadi tugas berat bagi seluruh stakeholders. “Mengenai tingkat popularitas kandidat calon bupati kuningan, Bupati Acep Purnama selaku Petahana masih memiliki tingkat popularitas tertinggi, yaitu 75%. Bagi seorang Petahana angka ini terbilang rendah, artinya Petahana belum bisa mengkapitalisasikan posisinya saat ini sebagai bupati. Kandidat lain seperti Mamat Roby Suganda, Dede Sembada, Udin Kusnaedi, Momon Rochmana, Yosa Oktora, Moch Ridho Suganda, Rana Suparman, Dudi Pamuji, Toto Taufikurahman (bukan berdasarkan urutan) masih di bawah 30%. Sedangkan Agus Budiman, Dani Iskandar dan Ujang Kosasih popularitasnya masih di bawah 10%.” Pungkas Ary kepada Media

 

Ary Santoso selanjutnya menjelaskan, bahwa pada tingkat kedisukaan Acep Purnama juga masih tertinggi dibandingkan kandidat lain, yakni sebesar 50,9% dari 75% keterkenalan beliau sebagai bupati. Hal ini pun merupakan tekanan bagi seorang Bupati aktif saat ini. Untuk kandidat calon bupati lain tingkat kedisukaan masih di bawah 20% bahkan ada yang di bawah 10%. Dua indikator ini memperlihatkan bahwa agenda sosialisasi kandidat calon bupati belum efektif menjangkau masyarakat.

 

“Selanjutnya mengenai tingkat elektabilitas para kandidat calon bupati, hasil temuan kami, Acep Purnama sebagai Petahana masih yang tertinggi dibandingkan calon lain yakni sebesar 31,02%. Akan tetapi angka ini terbilang cukup rendah untuk seorang Petahana. Adapun Elektabilitas kandidat lain seperti Mamat Roby Suganda, Momon Rochmana, Dede Sembada, Rana Suparman, Moch Ridho Suganda, Yosa Oktora, Udin Kusnaedi, Dudi Pamuji, Toto Taufikurahman, Agus Budiman, Dani Iskandar dan Ujang Kosasih (Bukan berdasarkan urutan) semuanya masih berada dalam rentang margin of error, artinya tidak dapat dibedakan secara peringkat (memiliki elektabilitas yang setara). Sedangkan undecided voter sebesar 28,78%. Elektabilitas tersebut berada dengan tingkat kemantapan memilih masih sebesar 42,43% sisanya masih bisa merubah pilihannya” Jelas Ary Santoso

 

Selain temuan diatas, riset INDEKSTAT INDONESIA juga menangkap mengenai tingkat kepuasan kinerja Bupati dan Wakil Bupati saat ini. Sebesar 53% masyarakat Puas terhadap kinerja Bupati dan Wakil Bupati saat ini, akan tetapi 58% masyarakat menilai semasa kepemimpinan Bupati dan Wakil Bupati saat ini tidak ada perubahan dari segi ekonomi. Hasil temuan lain dalam survey kali ini adalah, besarnya pengaruh kasus ahok dan Pilkada DKI terhadap keputusan memilih pasangan kandidat calon Bupati Kuningan.

 

Dari hasil riset yang kami lakukan, beberapa hal menjadi catatan. Pertama, sosialisasi mengenai pilkada baik dari penyelenggara dan kandidat masih kurang. Kedua, rendahnya popularitas dan elektabilitas Petahana membuka peluang penantang baru untuk bisa menyalip Petahana dengan catatan bahwa harus ada 3 paslon yang bertarung untuk membuka peluang penantang memenangkan kontestasi ini. Hal ini dikuatkan pula dengan angka preferensi masyarkat yang hanya 18% sudah memiliki pilihan calon bupati kuningan dan sisanya belum memiliki pilihan. Ketiga, parpol harus memperhatikan faktor DKI effect dan Ahok effect dalam menentukan koalisi dan pasangan.